Thursday, August 27, 2015

Too much!

Oh God… Ya Allah Ya Rabb Ya Tuhan… 
Banyak sekali kejadian dan pelajaran yang terjadi akhir2 ini dalam hidupku. Layaknya rollercoaster, naik turun sungguh cepat sekali… tapi lebih banyak meliuk2 turun ke bawah sih… terutama urusan hati… 
Tetapi bagaimanapun, kepala harus tetap tegak menghadap lurus ke depan, badan harus tetap tegak berdiri… jangan mau kalah oleh keadaan… 
Namun, sebagai manusia… aku sangat lelah… lelah… lelah… dan lelah… pada suatu titik tertentu… ingin sendiri, ingin egois, ingin bertingkah seperti anak kecil lagi, tersedu2… 

Saat ini, aku menarik diri dari ke"eksis"an dunia maya, yang makin lama makin gila… (maksudnya sih Facebook hehe…) 
Tak sanggup lagi menghadapi "perang" para netizen, pencitraan semu para users, persaingan sadis antar wanita… Oh God… Ya Allah Ya Rabb… 
Jika aku bisa hidup tenang di dunia nyata, jika urusanku di dunia nyata saja sudah sangat menguras tenaga, fikiran, hati, perasaan dan materi… kenapa pula aku harus menambah tingginya tingkat emosional dalam diriku sendiri dengan melihat setiap hari posting2 yang bikin pusing pala berbie hehehe… 

Satu hal yang membuat aku sangat bersyukur dan bahagia… di dalam ketenggelaman2ku dalam kasus2 yang memusingkan kepala, ternyata cinta itu hadir memberikan suntikan semangat, rasa nyaman dan senantiasa membesarkan hatiku. Pada saat rasa sakit dan kecewa bertubi2 menyelimutiku, cinta datang membawa sinar hangat kasihnya… terimakasih, Tuhan :) 

Well… 
Ngomong2 soal anak2ku… apa kabarnya ya?! Rasanya sudah lama sekali aku tidak bercerita soal mereka. 
Alhamdulillah… mereka sehat, beranjak remaja, dan semakin kompleks pula masalah2nya :) Aku sangat bangga sama mereka. 

Florian sudah berumur 12 tahun 5 bulan. Sudah pernah menyatakan "lagi naksir" cewek di sekolahnya ha ha ha… tapi masih cengeng :D Ya mungkin udah bawaan sifat sensitifnya… 
Perlahan2, aku mulai mengajarkan dia nilai2 cinta kasih diantara pria dan wanita. Bahwa jatuh cinta itu bukan sesuatu yang tabu, tetapi semua ada fase dan tahapan, perlahan2… dimana setiap manusia pasti mengalaminya, namun berbeda2 menyikapinya. 
Aku selalu menanamkan, bahwa merasa "beruntung" dalam suatu hubungan, itu adalah hal pertama dan yang paling utama harus dirasakan. Relationship itu bukan untuk gaya2an, ikut trend, supaya dibilang cool, dan karena merasa "harus" karena sudah teenager… 
Relationship itu proses. Tidak bisa dipaksakan. Karena hasilnya hanya akan menyakitkan. 

Jujur saja, tidak mudah menjalani hidup di dunia yang bertolak belakang dengan dunia tempatku tumbuh dulu. Semuanya harus disesuaikan dan harus mau kompromi. 
Aku sama sekali tidak memikirkan hal ini sebelum memutuskan menikah dulu. Kupikir jatuh cinta dan jalan bareng saja cukup bisa dijadikan pondasi membentuk rumah tangga. Mungkin, bisaaaaaa… tanpa harus ada komitmen "pacaran" pun BISA BANGET LANGGENG. 
Tapiiiii… imamnya harus Islam, memahami betul ajaran agamanya, dan memang secara fisik tertarik satu sama lain. 
Jika laki2nya tidak menguasai agama dengan baik, maka jadinya ya begitu… tergesa2, jadi salah kaprah! Dan sampai detik ini pun, aku masih suka iri dan cemburu dengan para pasangan yang satu visi dan misi. Satu agama. Satu budaya. Betapa sempurna hidup mereka… 

Hadeuh… belum slese nulis uneg2 udah ngantukkkk ajaaaa… :( 
Cut lagi deh… sebelum tulisannya ngawur kemana2… :D