Alhamdulillah... :)
Beberapa hari lalu, aku posting fotoku berdua suamiku di Facebook. Captionnya simple aja:
"Alhamdulillah :-) Small celebration <3 :*"
Tetapi menuai sungguh banyak jempol & komen hehehe...
Sebagian besar menyangka, aku positif hamil. Hanya 1 orang yang benar2 menebak dengan benar, berita yang sebenarnya ;)
Yap... sesuai judul posting kali ini, the big news is : RUMAH
Alhamdulillah, setelah 10 tahun menikah, 10 tahun pindah 2x dengan menghasilkan sepasang anak laki2 & perempuan sehat lahir batin, 10 tahun menabung, 10 tahun menjalani ups & downs sebagai suami istri, 10 tahun sering banget ditanya & terang2an dihakimi :
"Tinggal di rumah atau apartemen?"
"Kapan beli rumah?"
"Rumahnya seperti gudang!"
"Terlalu banyak milih! Padahal banyak tersedia rumah dijual!"
"Apa? Milih daerah situ? Wuaduhhhh itu mahal kalikkkkk!"
dll...
Akhirnya...
Pada tanggal 8 Mei 2012 kami resmi menandatangi surat jual beli rumah :) Leganyaaaa...
No... it was not an easy process, Folks :)
Bukan dari satu hari nemu rumah, hari selanjutnya beli. Waduhhhh emangnya kami jutawan :) Kami orang biasa2 aja kok :D
Juga bukan sok ngepas2in dengan hari ulang tahunku. Memang kebetulan sudah diatur demikian oleh Allah SWT :) Alhamdulillah, semua urusan dilancarkan hingga menjelang hari ulang tahunku yang ke-33 besok.
Urusannya sedikit rumit, meski aku sendiri tidak ingin berbelit2. Inginnya sederhana, simple, gampang, mudah, cepat, gak bikin kepala mumet & body lemes hehehe... tetapi tidak ada yang namanya instant dalam hidup... *bahkan bikin mie instant pun ada prosesnya, bukan?* :D
Hal yang paling mendasar, suamiku itu memang pemilih. Dibilang sok ya silahkan.. tetapi dia punya pemikiran dan pertimbangan sendiri kenapa seperti itu. Dia benar2 menginginkan rumah yang (mendekati) "sempurna".
Memang, tidak ada yang sempurna. Dan tidak perlu berlebihan. Beli rumah aja dibesar2kan.
Mohon maaf jika terdengar demikian. Tetapi kami berdua memiliki sejarah yang sangat tidak mudah, dimana untuk mencapai beli rumah ini kami harus melalui buanyakkkkkk sekali ujian dan cobaan. Tidak perlu dikupas satu2, karena akan menghabiskan waktu percuma.. baik buatku sebagai penulis dan pelaku utama, maupun buat yang membaca :)
Proses memiliki rumah ini juga tidak instant, seperti yang sudah aku tulis tadi.
Sejak 2 tahun lalu, kami sudah serius memulai berburu rumah. Banyak sekali hal yang didiskusikan, tetapi garis besarnya antara lain :
1. Lokasi
Kalau bisa sih, di Fischamend saja. Kami sudah sangat settle dengan desa ini :)
Anak2 sekolah disini. Teman2 sudah banyak. Infrastruktur sudah sangat bagus. Akses ke bandara sangat dekat (praktis untuk suami, juga praktis kalo kami travelling by plane). Transportasi umum tersedia, terutama direct train ke Vienna city centre. Sangat praktis buatku yang belum memiliki SIM :)
Tetapi lokasi ini tidak mutlak bagiku, agak mutlak bagi suamiku. Disitu kami sering berbenturan, karena bagiku dimanapun bisa saja asal ada transportasi umum.
Masalah utama, harga tanah per m2 di Fischamend sungguh sangat luar biasa bikin tabungan ludes :D Itu baru harga tanahnya... belum pajaknya, pengerjaan dokumennya, bangun rumahnya... walah...
Sempat terfikir untuk membangun rumah sendiri. Tetapi, another problem is waiting.. Suami tidak selalu ada di rumah, bahkan kadang bisa 5 hari full di LN. Bagaimana mengontrol ini itu jika aku sendirian? Dalam kondisi terdesak, pasti bisa. Tetapi kami tidak didesak siapa2, bukan? :)
Kalo mulai membangun rumah sendiri, harus benar2 mulai dari nol. Beli tanah, ngurus dokumen tanah, planning rumah dengan arsitek atau perusahaan properti, pemilihan material, dst dst dst... berapapun budget yang di-planning, bisa memakan 2x atau lebih.. *dilema*
2. Bentuk rumah
Buat aku, bentuk rumah bagaimanapun asal cukup ruang gerak dan bersih, tidak jadi masalah. Ahhh, siapalah diriku ini milih begini begitu :)
Aku pernah hidup di tempat kos yang super duper kotor dan murahan :) tapi survive tuh..
Aku pernah hidup di tempat kos yang super duper kotor dan murahan :) tapi survive tuh..
Beda dengan suamiku. Dia terbiasa hidup di rumah yang nyaman, banyak ruangan, ada ruang bawah tanah, ada kebun, ada kolam renang. Lengkap. Menurutnya itu adalah standar yang hampir mutlak harus terpenuhi. Disitu kami berbenturan lagi..
Tetapi aku tidak bisa mematahkan keinginannya begitu saja. Keinginan itu tidak salah. Itu cita2. Dan kalau dia MAMPU mewujudkan, kenapa tidak? :)
Tetapi, mencari bentuk rumah ideal seperti itu tidaklah mudah. Lokasinya dimana? Harganya berapa? Plus minus nya apa?
Hari berganti minggu berganti bulan berganti tahun...
Keinginan sama, tapi kadang2 ide tetap tak selaras. Pada saat stuck, biasanya kami memutuskan untuk jalan2... travelling... melepaskan diri sejenak dari tekanan soal rumah. Sebetulnya kami menekan diri sendiri. Tapi semakin tertekan, semakin sulit menetapkan pilihan, apalagi membuat keputusan...
Tahun kemaren, aku merasa lebih tenang. Lebih kun fayakun... jika Allah mempercayai kami, pasti akan terjadi... tanpa perlu bersusah payah diskusi, berantem, ngotot, dll...
Usaha tetap dijalani, sambil berdoa tanpa putus!
Ternyata, saat aku merasa lebih santai, lingkunganlah yang menekan kami.
Dengan pertanyaan2 seperti yang kutulis sebelumnya. Entah kenapa, aku merasa orang berlomba2 bersaing membeli rumah/apartemen. Catet : MEMBELI!
Aku berusaha untuk bersikap biasa, tetapi pertanyaan2 "Kapan beli rumah?", hampir setiap hari mampir di kupingku. *risih mode on*
Dan ketika kujawab : "Belum nemu yang cocok..."
Responnya : "Milih2 banget sih! Emang pengen yang kayak apa sih?"
Kalo kubeberkan keinginan suamiku, pasti dianggap SOK.
Kalo kubilang kami santai, mereka heran.
*loh, sebenarnya yang menjalani hidup siapa ya?!* :D
*loh, sebenarnya yang menjalani hidup siapa ya?!* :D
Ya sudahlah.. kuanggap semua opini itu sebagai selingan, kerikil, pelangi di perjalanan kami... :)
Jujur saja, terkadang aku malu mengundang teman ke apartemen kami. Bagi yang pernah mampir atau bermalam, pasti tau betapa sumpeknya apartemen ini. Barangnya buanyakkk karena kami semua hobi mengkoleksi barang :D
Tapi kalo nolak tamu, pamali juga... sama dengan nolak rejeki :) *dilema lagi*
Hingga akhirnya, pada suatu hari di penghujung tahun 2011, suami merasa tertarik dengan 3 rumah yang dijual di Fischamend.
Satu persatu, rumah itu kami kunjungi.
Rumah pertama, terletak di jalan utama desa. Dari masuk pagarnya saja, sudah wow... semuanya serba elektris dan otomatis! Keren banget! Apalagi setelah masuk dalamnya. Mewah! :)
Semakin masuk ke dalam, semakin minus... Kamar mandi terlalu besar, sementara kamar anak2 terlalu kecil... Suami juga kurang suka dengan cara agennya berkomunikasi.
Hmmm.. harganya... mahal :)
Kami juga kurang suka lokasinya yang di pinggir jalan besar. Terlalu berisik kalo kami duduk2 di kebunnya. Selain itu, aku agak2 merinding dangdut pas masuk ruang bawah tanahnya.. :D
Rumah kedua, wow juga! :)
Lokasinya tidak terlalu jauh dari apartemen kami. Tapi letaknya di lokasi khusus perumahan, tidak langsung di jalan raya. Kesan pertama sungguh menggoda. Bersihnya luar biasa! *akan dibahas lebih lanjut nanti, karena inilah rumah yang pada akhirnya kami beli* :)
Rumah ketiga, aku tidak terlalu tertarik dengan pembagian ruangan2nya. Agak aneh.
Lokasinya di 1 blok di samping rumah kedua tadi.
Setelah rumah 1 dan 3 dicoret, kami pun berkonsentrasi pada rumah ke-2.
Pada saat yang bersamaan, aku harus mengikuti ujian teori SIM. Mau gak mau, harus menyelaraskan semuanya. Fokus pada 2 hal. Bagaimanapun juga, seandainya rumah itu benar2 ideal, kami harus segera memutuskan : take it or not! Sebelum ada pihak lain yang tertarik. Beberapa kali berkunjung, membuat suami semakin yakin untuk memiliki rumah tersebut :) Alhamdulillah...
The facts about the house :
- kondisinya sangat bersih dan terawat
- lokasi di Fischamend *sangat ideal*
- terletak di Rosenhügel, salah satu area di Fischamend yang berbukit, pemandangannya ke arah Vienna airport
- lantai atas : balkon, 3 kamar tidur, 1 WC, 1 kamar mandi (dengan bath tub dan shower), 1 kamar kecil
- lantai dasar : garasi, ruang depan, 1 WC tamu, dapur + ruang makan, ruang tamu, teras
- ruang bawah tanah : kamar bermain anak2, kamar tamu + shower, ruang penyimpanan bahan makanan, ruang mencuci, ruang penyimpanan alat2 perkebunan (dengan akses langsung ke kebun)
- kebun + kolam renang
- depan rumah adalah taman bermain anak2, sebuah posisi yang strategis karena tidak akan ada bangunan rumah/gedung di depan rumah kami
- posisi rumah bagian depan menghadap ke timur (otomatis balkon mendapat sinar matahari pagi)
- posisi kebun di bagian barat-selatan, otomatis mendapat sinar matahari sepanjang siang hingga matahari terbenam
- dikelilingi tetangga kanan kiri dan belakang
- seluruh ruangan menggunakan lantai keramik, parquet, dan sebagian menggunakan karpet kualitas super bagus
Jadi, rumahnya siap huni :)
Alhamdulillah.. kami semua sudah jatuh cinta dengannya...
Terimakasih Allah memberi kami rejeki yang luar biasa :)
Terimakasih suamiku yang memilih tempat tinggal yang super nyaman untuk kita :)
Terimakasih IbuBapak, Mbak+suami, dan adik2 yang selalu membantu doa, harapan bagus, semangat positif disaat jiwa lelah :)
Semoga rumah ini membawa berkah dan kebahagiaan untuk kita semua...
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
